Amanda Aaltonen menolak untuk pasrah pada nasib sengsara sebagai seorang perempuan miskin; dengan berani, ia mengejar kebahagiaannya di dunia luar. Sebagai hukuman karena melanggar aturan, masyarakat merenggut hal yang paling berharga baginya—yakni kebebasannya—lalu mengurungnya di Pulau Seili.











